Selasa, 08 September 2015

Apakah Kunyit tidak lagi Menjadi Indikator Asam-Basa?

       Akhir-akhir ini sedang ramai diberitakan tentang bubuk kunyit yang dicampur dengan bubuk semen putih dan beredar luas di pasaran.
awalnya saya merasa tidak begitu terusik dengan adanya berita itu, karena saya berfikir ibu saya jika memasak sesuatu dengan bumbu kunyit pasti menggunakan kunyit hasil tanam sendiri. tanpa saya sadari, sekarang saya sudah menjadi mahasiswa dan mau tidak mau harus menjadi anak rantau yang mengharuskan saya untuk dapat memenuhi kebutuhan saya sendiri, termasuk mencari makanan murah sesuai kantung namun tetap memenuhi standar keamanan pangan dan kebutuhan gizi.
        Sebagai mahasiswa dengan jurusan yang berurusan dengan pangan, saya diharuskan untuk jeli setidaknya untuk diri saya sendiri saat mencari makanan. Jujur saja selama ini saya sering membeli makanan sembarangan sampai tadi sore saya menemukan hal yang ganjil mengenai makanan yang saya konsumsi.
sepulang kuliah saya membeli soto di warung sekitar kampus, saya sengaja membawa soto itu pulang untuk dimakan di kontrakan. setelah selesai menyantap soto saya langsung mencuci mangkuk bekasnya. kebetulan saya membeli soto dengan kuah kuning. saat saya mengoleskan spon dan sabun cuci piring ke mangkuk bekas soto itu saya menemukan keanehan yaitu tidak terjadi perubahan warna sebagaimana mestinya. lemak-lemak kuning yang menempel di dinding mangkuk tidak mengalami perubahan warna sesuai teori yang pernah saya pelajari.
Sebagaimana kita ketahui sejak SMP kita sudah mendapatkan materi bahwa jika kunyit diberi sabun itu akan terjadi perubahan warna dari kuning menjadi merah. hal itu karena kunyit merupakan indikator alami yang digunakan untuk mengetaui suatu zat merupakan asam atau basa. ekstrak kunyit jika ditetesi larutan asam makan akan berubah warna menjadi kuning cerah, sedangkan jika ditetesi larutan basa akan berubah warna menjadi merah kecoklatan.
       Kemungkinan tidak berubah warna lapisan lemak di dinding mangkuk tersebut adalah bahwa si pedagang soto menggunakan bubuk kunyit yang dia dapat di pasaran (tidak menggunakan kunyit yang diparut sendiri) yang mungkin bukan benar-benar kunyit, melainkan bubuk semen putih dan pewarna buatan sebagaimana sedang ramai dibicarakan para pewarta.
adakah dasar teoritis yang dapat menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi? atau mungkin hal tersebut 100% merupakan kesalahan, keteledoran, dan ketidaktahuan saya?  namun sebelum berburuk sangka mari kita usut.
tidak menutup kemungkinan terjadi kesalahan pada saya saat mencuci mangkuk tersebut. kemungkinan yang pertama perubahan warna yang dihasilkan tidak terlalu mencolok? sabun yang saya gunakan mempunyai pH yang lelih rendah dibanding sabun lain? saya salah lihat? atau
saya salah membuat hipotesis?   والله أعلمُ بالـصـواب

mohon koreksi jika ada kesalahan, mohon dimaafkan apabila ada unsur suudzon, mohon pencerahan bagi pembaca yang mungkin tahu mengapa dapat terjadi hal yang seperti saya alami dalam konteks keilmuan.

Salam Kritis! Salam Penasaran!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar