Kamis, 11 Juni 2015

Perjalanan Menuju Kampus Rakyat

Institut Pertanian Bogor, siapa yang tak tahu? terkenal dengan inovasi-inovasinya di bidang teknologi pertanian beserta hasilnya, menempati peringkat yang bagus di kancah universitas tingkat dunia. universitas yang paling banyak mematenkan inovasinya, universitas yang luas dan hijau oleh pepohonan, universitas yang punya Masjid Al-Huriyyah yang indah itu, universitas yang departemen Ilmu dan Teknologi Pangannya nomor 1 seIndonesia dan paling diminati.

Ya, aku akan bercerita tentang impianku. Ayahku adalah seorang guru sekolah dasar, lahir dari keluarga yang berantakan, kakekku punya banyak istri, tentunya anaknya pun banyak, ayahku tidak mendapat perhatian dari orang tuanya bahkan bisa disebut ditelantarkan. selama kecil sampai dewasa ayah tinggal bersama ibu angkatnya. singkat cerita, karena tidak dibiayai oleh orang tuanya, setelah lulus SMA olahraga, ayah gak langsung kuliah lagi, jadi pas dulu ayah wisuda S1 itu aku udah lumayan gede buat mengingat detail tempat dan kronologis cerita hari itu.

ayahku pun kuliah di universitas biasa, namun gatau kenapa wisudanya di gedung Graha Widya Wisuda milik IPB. singkat cerita lagi, tiba-tiba ibu bilang "nanti kalau udah gede, dede kuliahnya di sini ya"
dan sekarang aku baru sadar arti ucapan ibu, ucapan itu, sebuah doa tulus dari ibu. Kabulkanlah yaAllah.

setelah cerita tentang ayah dan GWW, ibu pun punya cerita tentang IPB. ibuku hanya tamatan SMA, karena ibu tinggal di kampung, tamatan SMA pun menjadi hal langka. kata ibu, saat ibu masih kecil sering ada KKN mahasiswa dari IPB, dan cita-cita ibu dulu mau jadi mahasiswi IPB biar bisa ikut program KKN. mungkin cita-cita masa kecil ibu itu tak tercapai sampai sekarang, tapi ibu mengamanatkan cita-cita itu padaku, ibu bilang aku harus bisa mencapai cita-cita ibu itu. insyaAllah bu, satu langkah lagi.

Saat kelas 1 SMA aku tak ada niat kuliah di IPB, malah dulu aku sangat terobsesi menjadi dokter gigi tamatan FKG UI. halah, tapi sekarang, gak ada bayangan sama sekali aku ikutan simak, dll. aku merasa tak pantas.
tapi, bakat terpendam itu tergali saat awal aku kelas XII, ada dua orang kakak kelasku yang diterima di program diploma IPB, namanya Rima Purnama dan Asih Pratiwi, suatu kebanggaan, meski belum pernah ada yang tembus di S1 setidaknya sudah ada yang tembus di D3. btw aku sekolah di pelosok.

aku sering tanya-tanya pada teh Rima soal IPB, aku udah niat banget. Februari 2015 datang,teh Rima bilang surat undangan USMI tahun lalu datang di awal Februari, aku sudah gelisah mengingat kantor pos di daerahku kurang gesit. akhirnya aku dan ayah pergi ke kampus IPB Dramaga, ternyata program D3 IPB itu gak sekampus sama S1, lalu kami menuju kampus Cilibende, aku menanyakan semua yg perlu aku ketahui, tapi receiver front office-nya kurang ramah hmmm. tapi setidaknya cukup mengurangi rasa penasaran.

aku melihat di timeline twitter IPB akan mengadakan open house dengan harga tiket Rp 25.000 yang cukup terjangkau buatku, aku segera mendaftarkan diri dengan mengajak satu orang temanku, lalu banyak teman yang lain ikut.
disana aku bertemu dengan ribuan calon sainganku, lalu bertemu juga dengan calon kakak tingkatku di departemen biologi, kakaknya ramah banget, tapi aku lupa nanyain nama haha. mereka kepo banget nanya-nanya kenapa aku interest banget sama biologi, nanya pengalamanku di biologi sejauh apa, pernah percobaan dan pengamatan apa, dll pokoknya ramah, baik banget, cantik & ganteng lagi, aku dikasih pin terus kakaknya pesen "berjuang ya des kakak tunggu disini"

nih kakak tingkat aku nanti di Bio IPB. aamiin semoga kakaknya baca deh ya.
 
ok, beralih ke cerita lain, februari sudah hampir usai, tapi surat itu belum datang jua, setiap istirahat kedua aku selalu minta izin keluar sekolah buat ke kantor pos, hanya untuk ngecek udah ada apa belom. sedihnya.
aku juga sering liatin perkembangan twitter @ipbofficial dan nanya ke guru yang bersangkutan, sampai suatu hari aku nangis kejer gara-gara surat undangan belum datang padahal beberapa hari lagi ditutup regist dan pengiriman berkasnya, haha kalo dibayangin lagi malu juga sering banget nangis hampir tiap hari kayaknya, sampai saat pihak sekolah yang cek ke kantor pos, suratnya ada. kan dodol-____-

abis itu aku langsung isi formulir, gak perlu waktu lama soalnya aku udah mempersiapkan berkas apa aja yang perlu dikirim, tapi halangan masih ada, temen-temen yang lain belum pada siap, setelah beberapa hari aku galau nunggu kesiapan berkas temen-temen yang lain, berkas kita siap dikirim kecuali satu orang itu-____- tertunda kembali.

nah, setelah selesai UN aku ikut bimbel intensif gitu di Katalis IPB, aku tinggal sendiri di dramaga udah kayak mahasiswi banget deh pokoknya ada sedikit bahkan banyak rasa bangga di dada meski baru bimbel, apalagi nanti kalau sudah kuliah ya? pas pengumuman SBM pun aku di dramaga, tinggal disana lebih kurang 40 hari lah, berkesan banget. sungguh. banyak pengalaman berharga dan indah dan paling seneng deh pokoknya pas keliling kampus Dramaga:') kampus impianku.

aku tak berjuang pada jalur itu saja, aku daftar PBUSMAK UGM, PMDKPN, dan SNMPTN tentunya. tapi entah apa yang ada dalam pikiranku dulu, kenapa aku gak pilih IPB di SNMPTN??? beneran nyesel banget sekarang. dulu aku mikirnya "yang penting negeri dulu" dan pikiran itu salah besar sekarang. Aku tembus SNMPTN di pendidikan biologi UIN Bandung, tapi??? tak ada niat buat ngambil. parah kan ya?? hati di IPB tapi daftar ke hati lain. payah.
ok kalau mau tau cerita panjangnya liat aja disini atau disini juga bisa.

 ok, ternyata aku dapet kabar aku tembus di teknologi pangan PolNeg Lampung, terus tembus juga di supervisor jaminan mutu pangan IPB, tapi sekarang?? dasar makhluk tak berfikir! ga bisa bersyukur! egois! aku masih mau berjuang buat dapetin biologi IPB. aku dosa gak sih? udah dikasih nikmat banyak banget, diterima langsung di 3 universitas negeri, tapi masih keukeuh dengan impian itu.
pergelutan batinpun sering aku rasakan, namun keyakinan hati ini tetap tegar untuk memilih Biologi IPB. entah kenapa, sejak SMP aku suka banget biologi masih inget dulu pertama belajar biologi tentang sistem 5 kingdom haha padahal aku fobia sama yang namanya hewan! hewan apapun kecuali nyamuk sama semut!!!!! tapi tetep aja mau biologi, di IPB lagi.
banyak yang menentang pilihanku, aku mengerti alasan mereka. tapi masih ada teman-teman yang mendukung dan menguatkanku, menambah keyakinanku akan pilihan itu.

oke, hatiku sudah terkunci di kampus IPB Dramaga, diberi pilihan apapun sepertinya pilihanku ini tak akan goyah, ditambah suatu hal yang membuatku lebih termotivasi untuk terus berjuang. terimakasih:)
sebenarnya rasa takut ini ada, aku takut akan terjadi penyesalan karena keegoisanku ini. lindungi aku yaAllah, yakinkanlah pilihanku ini baik menurutMu dan baik untukku.

ya, SBMPTN sudah lewat dua hari yang lalu, aku sudah pasrah dengan hasilnya, aku serahkan semua pada Allah. yang jelas aku sudah berusaha.
jangan salah, untuk ujian SBMPTN itu membutuhkan perjuangan loh! aku berangkat jam 3 dari rumah dan sampai di lokasi ujian itu jam 5 hampir menuju jam 6 pagi. mana ngerepotin ayah terus. ayah nungguin aku ujian SBM, gak kebayang deh bosennya nunggu 6 jam kayak gimana.
sejak aku tinggal di Dramaga udah gak keitung lagi pengorbanan ayah dan ibu seberapa. mulai dari biaya bimbel, akomodasi, transportasi buat pulang, antar jemput terminal soalnya aku sering pulang karena banyak urusan sekolah seperti wisuda, legalisasi rapot dan SKHUN sementara buat daftar ulang d3, nikahan kakak sepupu, mengeluarkan uang banyak buat daftar ulang d3 ipb dan kalau aku tembus di s1 (aaamiiin) uang itu gak bisa diambil meski setengahnya tapi mereka tetap dukung aku.
apalagi ibu, ibu sering puasa sunnah buat aku, sering ngaji buat aku, dll jadi sedih kadang-kadang takut mengecewakan mereka. yaAllah jangan biarkan aku mengecewakan mereka, kabulkanlah doa mereka.

gambar ini sudah berbulan-bulan menjadi wallpaper di laptop, profil pict di WA, gmail,dll
motivasi banget. nanti harus foto disini lagi dengan almamater biru navy itu! harus!
 
apalagi ya?? perjuanganku belum berakhir, aku masih mau ikut UTMI, jaga-jaga kemungkinan terburuk lah. soalnya aku takut gitu deh astagfirullah. pas motivation training di hutan karet IPB dulu aku udah diajarin supaya terus yakin dan optimis, tapi entah kenapa aku tetap aja takut. hmmmm
apakah ini terlalu tinggi? aku sudah banyak mengecewakan orang-orang sekolah, merugikan. maafkan aku.
                                 aku nulis impian itu di wall of dream di GWW pas open house
oh iya aku lagi suka soundtrack-nya Inuyasha yang "change the world" itu menurutku sih memotivasi banget!!! banget!!!

I want to change the world
Keep on holding on your desire
You will get that shining love n
That you can't wait to know
If you go on to get your goal
It's wonderland!


tapi yang paling dalem sih ini nih
 "Won't get lost if your passion's true" 
ini juga ding
"You will see that your desire will be granted again" 

tuh aku mark-in kata-katanya pake warna navy biar kayak almamater IPB haha. intinya apa ya?? intinya aku udah cinta mati sama IPB. maafkan aku egois. yaAllah semoga pilihanku tepat. aaamiin


Sabtu, 06 Juni 2015

Blooms, like daisies


when you heard someone(s) that you very respect to him/her blaming your choice behind you, what will you do?
just smiling at him/her? yes, i have done it.

Don't be afraid about your choice, that's your choice. don't hear what you don't wanna hear.
they wouldn't care if you get any problem with their choice for you later.

Try to be an egoist child, if you have the biggest dream during your 17 years life, reach your dream!
that's your dream, don't let anyone destroy your dream, don't hear any mocks about your dream. they just envy at you.

Now, is the best time for you to rise your success with your choice.
Deasy, let's blooms like a beautiful daisy.

Risalah Menuju Menuju Hari Penentuan

aku sudah kembali ke rumah, habitat lamaku. tapi ternyata, aku baru menyadari aku sudah terlanjur kerasan dengan habitat baru itu. berbaur dengan mahasiswa, berjalan sendiri, menggendong tas berat di punggung, mencari makanan murah, dan lainnya.

28 April 2015, hari pertamaku disana. mempertemukanku dengan sebuah kenyataan bahwa sosok itu ada.
30 April 2015, menyadarkanku akan tawa dan kebingungan yang dibuat itu terligase.
5 Mei 2015, masih dengan tawa itu, bacteriofage itu, cerita itu, kenyataan itu mungkin dimana aku tak bisa lagi membodohi sang liver.
13 Mei 2015, setelah pergelutan itu. pertanyaan dan pernyataan itu benar-benar ada. pesan itu, "saya tunggu di IPB" itu
18 Mei 2015, suara itu kembali terngiang
28 Mei 2015, pembatalan itu
29 Mei 2015, ketidakjadian itu
30 Mei 2015, teh kemasan itu, cara duduk itu, tawa itu
3 Juni 2015, ketidak sengajaan itu, 1 jam itu, sofa itu, obrolan dan tawa itu, penantian itu, kurasakan lagi atmosfir itu. dan mungkin itu salam perpisahan sebelum benar-benar tak akan berpisah lagi. satu bulan lagi. insyaAllah.

Semakin dekat dengan hari itu, aku semakin tak semangat untuk belajar. aku sudah meyerahkan semuanya kepada sang Maha pencipta. aku akan terima apapun hasilnya, jika gagal pada tahap ini, masih ada tahap satu lagi, jika gagal lagi, aku akan mencobanya tahun depan. aku yakin Allah tidak akan mengecewakan hamba-Nya yang berusaha. meski mungkin usahaku lebih didominasi kisah itu, tapi setidaknya aku berusaha. aku harus pandai menemukan hikmah dari semua itu 9 Juli nanti. Allah sangat baik kepadaku, maafkan aku yaAllah, telah kufur atas nikmatmu. perbolehkanlah makhluk ini untuk meminta, kabulkanlah doa ibu dan ayahku, beri kemudahan padaku dalam mengisi soal sbmptn nanti dengan benar, berkahi ilmu hamba, ridhoi hamba untuk kuliah di biologi IPB 52 ya rabb, aaamiiin

Senin, 11 Mei 2015

Ketika Sang Pemimpi Harus Memilih

Cariu, Bogor
11 Mei 2015

Kerongkongan ini perih. Mungkin sedang radang. Aku  asih bingung, apakah aku yang salah dan sok tahu atau orang lain salah mengartikan arti dari "radang tenggorokan". yang aku tahu, tenggorokan itu saluran pernafasan, sementara kerongkongan merupakan saluran pencernaan. Yang aku rasa, kerongkonganku lah yang terasa sakit saat aku menelan saliva, bukan tenggorokan. Yasudah, lupakan.

ketika kau diberi tiga pilihan sulit, apa yang akan kau lakukan?
tak kusangka, sesuatu yang tak aku tunggu sama sekali ternyata membuahkan hasil yang mungkin membahagiakan bagi sebagian orang.
9 Mei 2015, tepatnya pukul 17.12 sesaat setelah aku mempublikasikan tulusanku http://www.deasylucyana.blogspot.in/2015/05/risalah-akhir-sma.html?m=1, aku mendapat pesan singkat dari temanku yang berisi "Desiiiiii" aku tak langsung buka pesan itu, lalu aku balas dengan singkat "apa?" Tak lama setelah itu dia membalas "bener nu kamari" kubalas lagi dengan "apa?" Dia membalasnya cepat "urang diterima di uin" setelah kubaca pesan itu, aku langsung berlari mencari dompet dimana disana terselip kartu NISN-ku. Kubuka web resmi SNMPTN 2015, kumasukkan nomor induk dan tanggal lahirku, tak berapa lama muncul barcode dengan latar belakang berwarna hijau bertuliskan "Selamat, Anda dinyatakan lulus SNMPTN 2015" lalu kuusap layar handphoneku ke arah bawah "Program studi dimana anda diterima SNMPTN 2015 adalah: Universitas Islam Negeri Bandung Program studi: pendidikan biologi"
aku tak tahu perasaanku saat itu. Apakah harus senang atau sedih.
Ternyata benar firasatku dua hari sebelum hari itu, kebingunganpun mulai melanda. Kutelpon orang tuaku di rumah, aku mengabari mereka sambil meneteskan air mata. Antara air mata bahagia dan penyesalan. Aku bingung apa yang harus aku lakukan kedepannya saat aku tahu hal itu.
Aku dan temanku ternyata benar-benar menjadi pionir SMAN 1 Cariu di SNMPTN ini, kesempatan langka bagi siswa sekolah di pelosok hutan ini. Namun saat kupikirkan lagi, bahaimana dengan IPB? Aku masih ingin berjuang disana, tapi jika UIN tidak kuambil, hal itu akan membahayakan sekolahku. Disisi lain, impianku untuk melanjutkan studi di S1 IPB masih menjulang. Apa yang harus kulakukan? Memilih menerima UIN yang sudah pasti atau aku ambil resiko dengan menolak UIN dan mengikuti SBMPTN di IPB, kampus impianku yang belum jelas.

"Tereneng" ponselku berbunyi dicelah waktu aku meneteskan air mata, pesan singkat dari guru kimiaku yang biasa aku panggil dengan "bunda" pesan iu berisi "des, gimana ada yg diterima hak dari sekolah kita?" Kubalas pesan itu dengan "saya keterima bun" sambil kukirimkan "screenshot" gambar tanda aku diterima. Kulanjutkan dengan "febri juga diterima bun, matematika uin jakarta", bunda membalas dengan "andri gimana?" Kubalas "andri gagal bun" kulanjutkan dengan "saya bingung bun, itu bukan keinginan saya. Saya masih ingin berjuang di IPB. Impian saya dari kecil. Tapi disisi lain saya memikirkan bagaimana nasib adik kelas saya nanti" bunda menyarankan aku untuk menerima UIN. Hal itu membuatku makin sulit.
seketika itu banyak pesan berjatuhan dari teman-temanku menanyakan hal serupa yang didominasi dengan "des gimana?"
Kubalas satu-persatu pesan mereka dengan menanyakan saran dari mereka dan mengeluhkan semua beban ini.

Aku bingung. Aku bingung. Aku bingung. Kalimat itu mendominasi suara yang kugetarkan di farink.
Aku tak bisa tidur memikirkan itu semua.
apa aku harus egois dan tak puas dengan hasil ini? Atau aku harus menerimanya?
setelah kupikirkan semalaman, esoknya aku masih pergi ke katalis IPB dengan raut muka tak biasa. Aku duduk di kursi depan pintu. Saat ka Ugi muncul dibalik gerbang katalis "loh? Deasi *dibaca demikian* kok masih disini?" Kalimat itu menunjukan bahwa kak Ugi sudah mengetahui kabar aku lulus SNMPTN.
Tiba-tiba air mataku tak bisa kubendung "aku masih mau berjuang buat kuliah di IPB kak"
sambil kuhela napas dalam-dalam dengan volume paru-paru 1500 cc untuk membendung cucuran air itu.

setelah try out, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Mendiskusikan pilihanbsulit ini dengan orang tuaku.
dijalan, aku masih mendapat saran dari temanku yang memang kami sering pulang bersama. "Kalo lu udah jelas diterima di d3 IPB sih gua saranin lu ambil d3 IPB aja" dan wejangan-wejangan lainnya. Kalimat yang bercuvuran dari mulutnya seketika meyakinkanku bahwa memang aku harus memilih D3 IPB dan mencoba SBMPTN "solat istikhoroh sering-sering lu"

Pagi tadi, saat aku sudah dirumah, aku pergi ke sekolah untuk menghadiri suatu acara yang dinamai pengumuman untuk kelas XII. Aku bertemu kawan-kawan yang selama ini kurindukan. Serasa berabad-abad aku tak bertemu dengan mereka. Setidaknya mereka membantuku melupakan sejenak masalahku sampai namaku terngiang ditelingaku.
Aku dipanggil pak Erion, guru yang selama ini membantuku untuk mendaftarkan diri disana-sini. "Mana durennya des?" Ternyata kabar itu sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah.
seketika bermuncullan guru lain di depan ruang piket itu, "gimana des?" Kujawab dengan kalimat yang hampir sama kuucapkan kepada setiap orang yang menanyakan hal itu "Saya bingung. Saya pilih IPB saja pak. Engga apa- apa D3 pun setidaknya IPB punya nama besar"  guru-guru pun mengiyakan kalimat yang kulontarkan sepersekian detik yang lalu itu.
Tak lama namaku dipanggil lagi, dan ditanya soal itu kembali. Kujelaskan keputusanku itu dengan rinci. Dan sebagian dari mereka menyetujui keputusanku itu. Meski ada beberapa yang menyayangkan karena akan membuat sekolah dirugika olehku. Tapi harus bagaimana lagi? Terkadang pilihan sulit membutuhkan keegoisan untuk memecahkannya.

aku masih merasa bersalah kepada semua guru dan adik-adik kelasku yang telah aku rugikan disini, pilihan sulit itu mau tak mau harus kueliminasi.
selain itu aku masih bertanya-tanya, apakah aku tidak mensyukuri semua nikmat ini? Aku seorang diantara 152 ribu orang lainnya yang mendapat kesempatan untuk lulus di SNMPTN tapi aku menyianyiakannya. Tapi saat kupikir lebih dalam, IPB masih bertahta dihatiku, memanggil-manggil namaku.
Hatiku masih disana. Dan mungkin akan terus disana, karena IPB lah pilihanku. Impian masa kecilku yang berbulan-bulan kebelakang selalu kulontarkan kalimat "Deasy dan IPB adalah jodoh"

aku masih menggantung harapanku disana. Apakah kalimat itu masih berlaku saat ini? InsyaAllah kalimat itu akan selalu berlaku. Karena Deasy dan IPB dalah jodoh.

Untuk yang membaca tulisan ini, dengan rasa bersalah berjejal dalam hati, aku ingin meminta maaf untuk semua pihak yang telah aku rugikan. Maafkan keegoisan dan keserakahanku.


-Deasy Lucyana-

Sabtu, 09 Mei 2015

Risalah Akhir SMA

Bubulak, Bogor,
Sabtu, 9 Mei 2015

Aroma tanah yang terguyur air hujan memang selalu membuatku tenang. Meski ditempat asing sekalipun. Melihat kawanan air hujan berjatuhan dari langit sore membuatku melupakan sejenak semua gundah dalam hati.

Dua minggu berlalu. Aku masih disini. Berjuang. Menampung ilmu dan pelajaran tambahan yang bertubi- tubi menimpa otak yang tak diketahui berapa volumenya. Senin sampai minggu tak pernah libur. pagi sampai sore belajar di tempat bimbel, malam aku masih harus mengulangnya guna tak tertinggal. Sungguh melelahkan. Untuk apa semua itu aku lakukan jika bukan untuk diriku sendiri? Untuk mana sepanku, untuk kebahagiaanku.

Tepat pada hari ini pun, siswa dan siswi di seluruh sudut nusantara tengah dalam keadaan bimbang. Menunggu sang pengumuman yang tinggal 58 menit lagi.
Bagaimana denganku? Aku? Ya, aku juga "coba-coba" mendaftarkan diriku untuk mengikuti SNMPTN, menjual kemampuan berfikirku yang tak seberapa ini untuk diadu dengan puluhan juta otak anak Indonesia yang terkenal berprestasi itu. Tak realistis memang.
Nilaiku cukup bagus dalam ranking paralel di sekolahku, tapi bagaimana dengan persaingan taraf nasional?

Tujuanku satu. Aku ingin melanjutkan study di Biologi IPB. Tapi kembali ke awal. Suatu kata yang dinamai realistis. Realistis bukan berarti aku putus asa. Meskipun secara harafiah artinya hampir menyenggol kata putus asa, tapi aku masih berjuang di SNMPTN.
Aku melupakan mimpiku belajar Biologi di IPB dengan alasan realistis itu. Aku mengambil Pendidikan Biologi dan Biologi Murni di Universitas Islam Negeri Bandung dan Biologi Murni Universitas Jenderal Soedirman.

Universitas Islam Negeri Bandung, memang sedikit asing dan tak punya nama sebesar IPB.  Aku pun tak tahu alasanku memilih universitas itu. Setidaknya "realistis" itu sudah aku penuhi. Meninggalkan IPB yang memang akan sangat sulit bersaing dan lulus disana mengingat belum pernah ada seorangpun di sekolahku yang pernah lulus SNMPTN di universitas manapun. Itulah "secuil" alasanku memilih UIN.

Sekarangpun, dengan memilih UIN sebagai pilihan utama di SNMPTN, aku masih merasa tidak yakin akan mendapat hasil yang menyenangkan jam 5 sore nanti.
Aku tak begitu mengharapkan. Meski demikian, dalam hati kecilku masih terselip molekul keinginanku untuk lulus SNMPTN dan menjadi pionir sekolahku di SNMPTN. Jika aku lulus di UIN bandung, setidaknya aku tak usah berlama-lama tinggal disini. Pulang pergi menaiki angkot hijau dan biru untuk sampai ke kampus katalis IPB untuk dijejali materi SBMPTN, selain itu aku dapat membantu adik kelasku, menyediakan kursi kosong untuk diduduki tahun depan oleh mereka. Dengan konsekuensi tidak berkuliah di kampus impianku sejak aku kecil itu, IPB. Tak apa. Semua sudah digariskan. Tawakal.

Bukan aku tak mencoba jalur lain, aku mendaftarkan diriku di berbagai sekolah vokasi universitas negeri dan Politeknik negeri. Setidaknya sudah membuahkan hasil, aku dikabari bahwa aku lulus Teknologi Pangan di Politeknik Negeri Lampung. Aku langsung menelpon ayahku, apa harus kuambil? Karena aku salah satu orang pertama di sekolahku yang berhasil lulus PMDKPN. Tapi aku masih menunda kesempatan itu. Tak jelas juga bagaimana keputusannya. Karena aku mendapat kabar lagi bahwa aku lulus di Supervisor Jaminan Mutu Pangan Vokasi IPB. Meski baru kabar burung dari kakak pendahuluku disana, aku cukup merasa senang. Setidaknya aku berhasil diterima di IPB meski hanya D3 (itu pun belum jelas kebenarannya. Semoga saja benar adanya)

Meski sudah dijatuhi dua pilihan itu, aku masih menyimpan asa untuk melanjutkan study di S1 IPB. Inilah sebabnya aku masih disini. Jauh dari ayah dan ibu, hanya untuk mengejar keinginan yang menjulang itu.
aku akan berusaha terus untuk memastikan bahwa ada satu kursi yang sudah aku miliki di s1 IPB. Biologi, pelajaran yang selalu aku kagumi.

31 menit menuju pengumuman SNMPTN itu, jantungku masih berdetak biasa dengan tekanan sistol/diastol 120/80. Aku tak merasa gugup atau apapun itu yang para peserta SNMPTN lain rasakan. Aku pun bingung harus dengan apa aku menjelaskan semua ini?
aku bertawakal dan berserah kepadaMu yaRabb. Dzat yang maha menentukan hasil. Dzat yang masa merencanakan sesuatu dengan baik.
Apapun hasil yang aku dapatkan, aku akan terima dengan lapang dada yaAllah. Karena aku yakin masih ada rencana indahMu untukku. Jika memang aku sudah ditakdirkan untuk kuliah di IPB, seberapa sulitpun rintangan yangbharus aku hadapi. Aku akan tetap berjuang. Karena jika sudah takdir, Mars dan Bumi pun hanya selangkah kaki.

Pemimpi Ulung,
Deasy Lucyana

Kamis, 23 April 2015

preview grand final 1 Olimpiade Indonesia Cerdas season 2 SMA Kolese Kanisius memimpin sementara



Hallo… kembali lagi
Aku lagi mau nyoba review acara kesukaan aku nih sekarang udah babak grand final part 1.
Tadi sore Olimpiade Indonesia Cerdas tayang lebih awal, yang biasanya jam 18.30 sekarang jadi 18.00.
Titel juara ini diperebutkan oleh tim A (SMAK 7 PENABUR JAKARTA), tim B (SMAN 4 BANDUNG), tim C (SMA KOLESE KANISIUS JAKARTA) yang mana SMA CC ini malam lalu yang memenangkan babak play off melawan SMAN 61 JAKARTA dan SMAN 1 KLATEN.

Babak pertama dimulai dengan adu cepat yang dibabat habis oleh SMAN 4 BANDUNG dengan 70 poin, disusul SMAK 7 PENABUR 40 poin, dan SMA KOLESE KANISIUS 30 poin.
Setelah itu babak tebak gambar (lupa ini babak apa namanya) yang dimana ketiga tim mendapatkan oin penuh.
Nih aku sedikit nyatet ilmu dari babak tebak gambar:
Negara-negara yang tergabung dalam G20: Argentina, Brazil, India, Meksiko, Afrika Selatan
Negara-negara yang tergabung dalam G8: Kanada, Jerman, Prancis
Negara-negara yang tergabung dalam International Islamic Bank: UEA, Senegal, Kuwait

Setelah itu ada praktek sains, dalam babak ini SMAK 7 PENABUR unggul namun tidak mencapai poin sempurna.
Ada sedikit ilmu juga nih di babak praktik sains:
-          NaHCO3 + H2SO4 akan menyebabkan kalor dari system berpindah ke lingkungan (eksoterm / suhu naik)
-          Gula pereduksi antara lain glukosa dan fruktosa. Untuk gula pereduksi menggunakan indicator benedict yang akan menghasilkan endapan merah bata jika dipanaskan
-          Asam asetat + garam -> HCl dan jika logam dicelupkan kedalamnya, karat yang terkandung lama logam akan hilang
-          Indicator menguji protein: biuret. Tambahkan NaOH ke bahan makanan yang akan diuji, tambahkan CaSO4 (tembaga Sulfat/biuret) akan menghasilkan warna ungun dengan syarat bahan makanan berprotein tadi dalam keadaan basa (itulah sebabnya ditambahkan NaOH)
-          Busa cukur tambah soda kue akan mengakibatkan kalor lingkungan berpindah ke system (suhu jadi dingin / endoterm)
-          Fenolptalien digunakan sebagai indicator pH basa dari 8,3 – 10 dimana Ph 8,3 berwarna bening dan ph 10 berwarna kemerahan

Setelah itu ada babak menguji daya ingat itu apasih cepat tepat bukan? Or kebalik sama yg bendera itu? Ah gatau deh yang jelas pada babak ini SMAK 7 PENABUR berhasil menebak 10, SMAN 4 BANDUNG menebak 14, dan SMA KOLESE KANISIUS menebak 16.
Memang sejak awal GRAND FINAL OIC ini sudah sengit, awalnya SMAN 4 BANDUNG memimpin sampai mereka terpeleset di babak praktik sains yang menurutku penjelasannya kurang. Dan SMA KOLESE KANISIUS berhasil mengungguli sejak babak ini.
Pada babak kotak katik pun SMA KOLESE KANISIUS tetap memimpin dengan poin diatas 100 karena berhasil mempertemukan 3 kotak bersilangan seperti tanda (+), awal babak ini memang milik SMAN 4 BANDUNG sampai SMA KOLESE KANISIUS berhasil menjawab kotak double point yang baru berhasil mereka jawab dengan benar setelah 4 kali percobaan

Akhirnya, pada grand final part 1 ini SMA KOLESE KANISIUS unggul dengan 460 poin, disusul SMAK 7 PENABUR dengan 345 poin, dan SMAN 4 BANDUNG dengan 325 poin.
Untuk supporter terfavorit sudah bisa ditebak, memang anak-anak Bandung itu memang sangat kreatif, mereka mendapatkan Rp 1000.000
Grand final ini akan dilanjutkan besok malam di RTV

Minggu, 19 April 2015

Cake, Balloons, Chocolate, and Happy Birthday!

10 maret 2015 lalu, guru kimia SMAN 1 Cariu, bunda Siti Hastuti berulang tahun. sejak tanggal 9, kita udah merencanakan semuanya dengan matang. aku, andri, yadi, & febri pulang bimbel langsung pergi ke toko cake buat pesen kuenya 
besoknya kuenya diambil sama mba sari dan mei.
kebetulan pelajaran kimia itu jam ke 3&4, trus kan pelajaran ke-1 itu fisika, dan gurunya masuk. sementara sari dan udah pulang ngambil kue dan mereka bingung kuenya harus dikemanain, mereka nelponin anak kelas trus aku pura2 izin ke wc dan nutup pintu kelas supaya pas mei & sari lewat di depan kelas gak keliatan bu hj. ebo. pas bu hj. ebo keluar aku dll langsung lari ke kantin buat nyiapin lilin & balon yang baru aja dateng diambil sari & mei

ini balonnya, pecah satu gara-gara aku maenin haha

kiri-kanan: yogi, andri,aku,mei,euis


nah, saat yang lain persiapan niupin balon, lilin,kue, dll di kantin, sebagiannya lagi nyiapin gambar2 gitu di papan tulis yang tulisannya "happy birthday bunda" dengan sedikit sentuhan seni dan rumus-rumus senyawa kimia menyesuaikan dengan bidang studi yang diajarin bunda. sebenarnya aku udah edit stop-motionnya tapi kalau diupload disini lama banget. nanti kapan-kapan deh ya.

abis itu ternyata bunda keburu dateng. yang tadinya kita punya rencana buat becandain bunda jadi gak jadi deh. tadinya andri dan anak-anak pendiem lainnya disuruh keluar kelas trus yang lainnya ngumpet.
pas bunda udah dijalan menuju kelas, gamal teriak "bunda dateng, bunda dateng" trus kita yang lagi sibuk sendiri jadi rempong lari-larian ke meja masing-masing buat ngumpet (ya meski failed)
abis itu bunda masuk kelas dan dinyanyiin lagu happy birthday. DAN KUENYA BELOM DIBAWA DARI KANTIN OMG!!  jadinya kita nyanyi berulang-ulang sampai kuenya dateng hahaha lucu sekali. abis itu potong kue dan ya gitu lah seperti kebanyakan kejutan ulang tahun lainnya. expost ngasih gantungan kunci dari flanel dengan tulisan "hbd bunda from: xii ipa 2" 

ignore my face

nah begini penampakkan papan tulisnya

cowok expost
kiri-kanan berdiri: mansyur, yadi, irfan, kiki, gamal, bunda, ugi, yogi, asep, andri, febri
kiri-kanan jongkok: adit, denny, anim, rizky

cewek expost (maaf banget ini gak jelas hiks)
kiri-kanan berdiri: sabrina, mae, lela, icha, amel, euis, bunda, rikha, mutia, martia, neneng, ayu, karina, ika, sari
kiri-kanan duduk: eva, intan tri, rahayu, aku, anggia, mei, intan handarini, rini, oca